
[ Senin, 09 November 2009 ]
JAKARTA - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar kemarin (8/11) kembali mendatangi Tim Delapan di gedung Wantimpres, Jakarta. Kedatangannya itu merupakan kelanjutan dari klarifikasi oleh Tim Delapan sehari sebelumnya atau Sabtu lalu (7/11)
Antasari pun menjelaskan gonjang-ganjing perkara yang melibatkan dua koleganya, yakni dua pimpinan nonaktif KPK Chandra Marta Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Kedatangan Antasari sangat penting untuk mengeklirkan kasus yang menyedot perhatian publik tersebut. Sebab, penyidikan polisi berawal dari testimoni yang tersimpan dalam laptop mantan ketua KPK itu.
Antasari mendatangi gedung Wantimpres dengan pengawalan ekstra ketat. Selain
voorrijder, satu truk polisi mengiringi mobil pria yang saat ini menjadi terdakwa kasus pembunuhan berencana atas Nasrudin Zulkarnaen, Dirut PT Rajawali Putra Banjaran, tersebut.
Setelah satu setengah jam diwawancarai Tim Delapan, Antasari bersedia berbicara kepada pers. ''Saya perlu menjelaskan ini semua agar tidak terjadi bermacam persepsi publik. Saya melihat seperti gajah dalam kegelapan,'' ujarnya.
Antasari menjelaskan, baru kali ini menerangkan kejadian itu karena keterbatasannya sebagai tahanan polisi. Dia tidak bebas memberikan keterangan.
Dia menuturkan, sekitar Oktober tahun lalu ada informasi yang masuk kepadanya bahwa penanganan kasus yang melibatkan PT Masaro Radiokom tidak akan berlanjut. Sebab, sudah ada dugaan suap untuk oknum pejabat KPK. ''Saya menyikapi secara serius karena kecintaan saya terhadap KPK,'' ucap mantan direktur penuntutan tindak pidana umum Kejagung itu.
Setelah mendengar informasi itu, dia bertolak ke Singapura untuk menemui Anggoro Widjojo, Dirut PT Masaro Radiokom. Anggoro pun bercerita banyak soal uang yang telah dialirkannya. Namun, keterangan Anggoro itu dianggap Antasari sebagai unus testis nulus testis (satu saksi bukan saksi).
Seperti diketahui, pertemuan Antasari dengan Anggoro itu dinilai melanggar aturan hukum. Dalam Undang-Undang KPK, pimpinan KPK diancam hukuman lima tahun penjara kala menemui pihak-pihak yang beperkara, baik langsung maupun tidak langsung. Soal itu, KPK sudah mengerahkan petugas pemeriksa internal untuk menyelidiki pelanggaran tersebut. Tetapi, keputusan soal itu hingga kini masih mengambang.
Menyusul pertemuan itu, Antasari lantas meneliti lebih lanjut apakah perkara yang menyeret Anggoro memang berhenti. ''Ternyata penyelidikan berlanjut,'' kata Antasari. Bahkan, penyidik KPK juga menggeledah kantor PT Masaro di Jakarta.
Menurut Antasari, ada satu hal bersifat teknis yang tidak terkait kasus yang dihadapi. Ketika itu, Antasari menyarankan menggabungkan dengan kasus anggota DPR Yusuf Erwin Faisal.
Soal itu, Antasari berupaya menggali informasi lagi. Kali ini dia menemui Ari Muladi di Malang. Di sana Ari menjelaskan lebih detail soal aliran dana tersebut. ''Tapi, sejauh itu saya juga belum percaya,'' ungkap Antasari.
Belum sempat penyelidikannya tuntas, Antasari ternyata terlebih dahulu dijebloskan polisi ke tahanan. Karena itu, dia tak mengikuti perkembangannya lebih lanjut. Namun, setelah polisi menggeledah ruang kerja Antasari di KPK, ditemukan testimoni Anggoro dalam laptop miliknya. ''Penyidik juga menanyakan kaitannya apa. Lalu, saya memberikan penjelasan,'' ujar pria kelahiran Pangkalpinang, Bangka Belitung, itu.
Namun, untuk kelengkapan berkas administrasi, polisi meminta Antasari membikin laporan. ''Saya kira ini wajar-wajar saja,'' tutur Antasari.
Namun, dia menegaskan bahwa testimoni itu bukan datang dari dirinya, melainkan dari Anggoro. ''Ini tolong diklirkan,'' lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Antasari juga membantah bahwa dirinya melayangkan surat ke DPR untuk meminta menindaklanjuti kasus tersebut. ''Saya juga tidak pernah menyurati DPR. Karena status saya tahanan, bagaimana menyurati,'' ucapnya. Dia meminta agar tidak diadu domba dengan Kapolri terkait soal itu.
Dia menambahkan bahwa hingga kini dirinya tetap mencintai KPK. ''Sampai saat saya menerima laporan itu pun saya tidak yakin ada (suap) ke KPK. Saya tak yakin ada oknum (KPK) yang menerima (suap),'' ucapnya.
Dia menegaskan bahwa hal itu bisa didengarkan dari testimoni Anggoro yang tersiar ke publik. Dia berkali-kali mempertanyakan soal kebenaran suap tersebut. ''Saya menjaga betul lembaga itu. Saya masih punya jejak rekam moral di sana (KPK),'' jelasnya.
Menurut anggota Tim Delapan Anies Baswedan, dalam verifikasi itu, banyak hal yang ditanyakan kepada Antasari. ''Utamanya, masalah urut-urutan untuk memperjelas ini semua,'' ungkapnya. Semua itu dimaksudkan agar Tim Delapan mendapatkan konstruksi yang tepat dalam kasus tersebut.
Intinya, kata Anis, tidak banyak hal baru yang diungkapkan Antasari dalam persoalan itu. Namun, ada opini baru yang dia beberkan. ''Dia tak yakin ada aliran dana ke pimpinan KPK,'' tuturnya.
Tim Delapan selanjutnya akan merapatkan hasil wawancara dengan Antasari itu. Sebab, hingga kini, ada dua persepsi. Pertama, Antasari mengaku bahwa laporan itu atas permintaan polisi. Sementara polisi menganggap bahwa laporan itu atas inisiatif Antasari.
Verifikasi Sakit Anggodo Nasib Anggodo Widjojo hingga kini masih bertatus saksi terperiksa. Tetapi, Jumat lalu (6/11) dia mengaku sakit. Hingga kemarin (8/11), Anggodo belum diperiksa lagi oleh penyidik Bareskrim Polri.
''Benar-benar sakit. Beliau punya riwayat sakit jantung,'' kata pengacara Anggodo Bonaran Situmeang. Tetapi, Bonaran menyatakan tidak tahu di RS mana kliennya dirawat. ''Silakan tanya penyidik saja. Polisi yang tahu,'' elaknya.
Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, Anggodo memang pernah diperiksa di RS Polri, Jakarta Timur. Namun, dia tidak sampai menjalani rawat inap dan diperbolehkan pulang. Tidak diketahui di mana posisinya saat ini.
Kondisi Anggodo yang tidak jelas statusnya, dan bahkan dalam perlindungan saksi, tersebut membuat geram para aktivis antikorupsi. ''Apa istimewanya dia. Polisi harus segera menahan sebagai tersangka,'' ujar Teten Masduki, sekretaris jenderal Transparency International Indonesia (TII).
Menurut dia, sakitnya Anggodo harus diverifikasi. ''Jangan sampai itu hanya alasan agar bisa bebas ke luar Bareskrim,'' kata Teten.
Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Rijalul Umam bahkan mengancam akan mengerahkan ribuan orang untuk mendemo Mabes Polri dan mendesak agar Anggodo ditahan. ''Kami akan menuntut agar mafia hukum itu ditindak seadil-adilnya,'' kata Rijal.
Tersangka dan Kasus Baru Di bagian lain, penyidik Direktorat III Pidana Korupsi Bareskrim Mabes Polri, tampaknya, akan melangkah dalam kasus Bibit dan Chandra. Polisi, kabarnya, segera menentukan tersangka baru kasus itu awal pekan ini. ''Rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR (Kamis lalu, 5/11) membuat langkah polisi semakin mantap,'' ujar sumber Jawa Pos kemarin.
Sumber yang dekat dengan polisi itu menyatakan telah mendapat kabar langsung dari penyidik yang menangani kasus tersebut. ''Ada dua nama (tersangka baru). Satu pimpinan, satu polisi aktif,'' katanya.
Sumber lain menyebutkan, Mabes Polri bahkan akan segera menyelidiki kasus baru terkait KPK. ''Kasus itu menyangkut korupsi sebuah BUMN,'' kata perwira tinggi polisi itu saat dikontak Jawa Pos kemarin.
Apakah itu kasus korupsi PLN di Jawa Timur? Sumber itu menolak membeberkan. ''Anda tunggu saja prosesnya. Yang jelas, ada tebang pilih tersangka,'' ujarnya.
Sumber resmi Mabes Polri hingga tadi malam belum bisa dikonfirmasi. Ponsel Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna tidak aktif sejak pagi. Telepon genggam Wakadiv Humas Brigjen Pol Sulistyo Ishak aktif, namun tidak diangkat saat dihubungi.
Demo Dukung KPK Demonstrasi besar-besaran mendukung KPK terjadi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, kemarin. Sekitar dua ribu warga datang sejak pagi pukul 07.00. Rata-rata mereka mengenakan baju olahraga dan celana training. ''Memang, ini tajuknya senam sehat Indonesia antikorupsi,'' ujar salah seorang koordinator aksi Effendi Ghazali saat ditemui Jawa Pos sebelum naik panggung.
Menurut pakar komunikasi politik dari UI (Universitas Indonesia) itu, gerakan Cintai Indonesia Cintai KPK (Cicak) diikuti masyarakat di setiap level. ''Bukan hanya facebookers. Lihat saja, pedagang asongan ikut senang, ibu rumah tangga bawa bayinya, muda-mudi sambil pacaran ikutan. Ini bukti bahwa gerakan ini adalah gerakan massa sipil yang populis," katanya.
Dari mana dana untuk aksi? Ditanya duit, Effendi malah tersenyum. ''Soal duit itu jadi propaganda orang-orang yang nggak suka dengan gerakan ini. Tanya saja teman-teman itu dibayar atau tidak,'' kata penggagas acara Republik Mimpi itu menunjuk artis-artis yang datang meramaikan acara.
Presenter Indra Bekti kepada wartawan menegaskan bahwa dirinya datang tanpa dibayar. ''Murni mendukung KPK, murni dari hati,'' katanya. Hal yang sama disampaikan para personel Slank, musikus Erwin Gutawa, dan Franky Sahilatua.
Acara diisi dengan orasi dan bernyanyi lagu-lagu sindiran kepada Polri. Salah satu lagu yang dijadikan lagu bersama adalah jingle KPK di Dadaku yang disadur dari lagu Garuda di Dadaku milik Netral. Tim dari Cicak bahkan membawa laptop khusus untuk membagi-bagi ringtone itu bagi yang berminat mengunduh.
Saat Koordinator Kontras Usman Hamid berorasi, dua orang demonstran naik membawa poster polisi berwajah Anggodo. ''Ayo, kita lawan mafia-mafia hukum,'' teriak Usman. Disambut yel-yel kompak, ''Lawan, lawan, lawan.''
Poster polisi Anggodo itu pun menjadi bulan-bulanan demonstran. Mereka melempari poster yang dinamai Super Anggodo itu dengan botol air mineral kosong. ''Bakar saja, bakar saja,'' teriak massa. Usman menenangkan demonstran. ''Jangan dibakar, terlalu enak. Harusnya dihukum seumur hidup saja,'' teriak aktivis '98 itu.
Hasrat demonstran untuk membakar akhirnya terlampiaskan dengan menyulut api pada boneka buaya besar berwarna hijau. Awalnya, puluhan polisi dari Polres Jakarta Pusat hendak melarang. Namun, justru diteriaki oleh pendemo, "Buaya, buaya, buaya.''
Karena tak ingin kisruh, polisi mengalah. Setelah boneka itu dibakar, mereka sibuk menyemprotkan tabung pemadam api. ''Kami ini ngampet (menahan diri), Mas. Coba siapa yang nggak marah disebut buaya,'' ujar Bripka Soeparno, salah seorang polisi yang ikuit mengamankan demo.
Aksi berakhir sekitar pukul 10.30. Massa yang bubar dengan tertib membuat lalu lintas yang awalnya macet menjadi lancar. Sembari pulang, sebagian memborong kaus bertulisan Cintai Indonesia Cintai KPK. Penjual kaus Cicak pun laris manis. ''Hari ini bawa 100 kaus laku semua. Ini cuma iseng saja ambil dari teman di Rawamangun,'' kata Obi, salah seorang penjual kaus.
(git/rdl/fal//dwi/kum)